Feeds:
Tulisan
Komentar

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘kerja dan ibadah’

 

Kisah ini saya kutip dari artikel Majalah Tarbawi Edisi 177 Th.9 / April 2008. Saya sangat terkesan dan kagum kepada Pak Ayi Rohaman (Desa Arjasari, Bandung) atas keikhlasan, keseriusan dan sumbangsih beliau untuk pendidikan bangsa. Semoga Allah membalas segala kebaikan dan pengorbanan beliau. Berikut ringkasan kisahnya yang dituturkan beliau pada Tarbawi. 

 

Mang Ayi, Gorden Keliling dan Perpustakaan Sariwangi

 

“ Sejak masih remaja, saya sudah bekerja apa saja. Keluarga saya bukan keluarga berada, bahkan sangat sederhana. Waktu masih sekolah, saya sering tidak bisa membeli buku karena sama sekali tidak ada uang. Meski sangat ingin dan perlu buku, tapi saya tidak tega kalau harus memaksa orang tua, karena biayanya memang tidak ada.

 Sejak dulu, saya memang senang membaca buku. Karena kesukaan saya ini, kadang saya dicemooh, disebut berlagak seperti orang kaya [tertawa]. Ketika menyempatkan waktu untuk membaca, kadang dikatakan, “wah tukang gorden kayak orang kaya, pagi-pagi udah baca koran” [tertawa]. Tapi saya tidak ambil pusing. Menyikapi olokan teman, saya justru merasa prihatin. Mungkin mereka masih berprinsip buat apa membaca, memangnya bisa mendatangkan uang.

 Saya pernah membaca penelitian sebuah majalah di tahun 2004, yang mengatakan daya baca masyarakat kita di bawah standar. Katanya minat baca orang Indonesia peringkat 110 dari 175 negara. Saya kaget, kenapa bisa serendah itu. Apa karena manusianya tidak mau membaca atau karena tidak ada bahan bacaan yang aksesnya mudah. Kalau alasannya tidak ada bahan bacaan, kenapa kita tidak terjun untuk menyediakan. Akhirnya mulai terpikir untuk membuka taman bacaan di desa sendiri (desa Arjasari, Bandung).

 

Suatu hari ketika berjualan gorden keliling, saya melihat di satu keluarga yang anaknya menangis meminta dibelikan buku. Orang tuanya tidak punya uang. Jangankan untuk buku, untuk makan hari itu saja sulit. Tiba di rumah, saya mencari buku yang disimpan di rumah. Buku bekas saya sekolah, buku bekas keponakan, dan buku bacaan lain saya kumpulkan. Terkumpul kurang lebih dari 75 buku. Kemudian saya membuka taman bacaan di teras rumah (pada 20 April 2004)

Awalnya, anak-anak tidak ada yang mau masuk ke teras ‘taman bacaan’ rumah saya. Akhirnya kalau ada anak yang lewat, saya panggil. Saya bilang buku-buku itu tidak dijual tapi justru untuk dibaca secara gratis. Mulailah anak-anak berdatangan dan membaca buku di teras. Selain ‘berkampanye’, saya juga membeli makanan kecil. Uang dari hasil berjualan gorden, saya pakai membeli makanan. Anak-anak lebih senang kalau membaca sambil dikasih makanan, dan semuanya gratis. Mereka memberi tahu temannya, “Disuruh membaca sama Mang Ayi, enak ada permen, ada makanan”. Dari temannya sampai ke temannya lagi. Lama-lama yang datang bertambah terus.

Mulanya istri kurang setuju saya membuka taman bacaan, juga dikarenakan khawatir seluruh perhatian saya tercurah untuk taman bacaan itu. Karena waktu itu rumah tangga saya sendiri ekonominya di bawah standar, miskin. Berjualan gorden keliling, kadang sehari ada yang membeli, setelah itu selama seminggu tidak ada pemasukan. Kalaupun ada untung saya jarang membawa pulang uang. Justru membawa pulang buku (untuk taman bacaan). Kalau mendatangi perumahan, saya melihat buku-buku yang akan dijual ke tukang rongsokan. Saya sangat prihatin. Ya Allah andaikata saya banyak uang, saya ingin membeli semua. Akhirnya saya beranikan diri menawar buku-buku itu. Awalnya orang-orang kaget, kenapa Ayi yang tukang gorden membeli buku bekas. Setelah mengetahui buku itu untuk taman bacaaan, seringkali harganya didiskon, kadang malah diberikan cuma-cuma. Pernah juga saya difitnah, ketika ada tukang rongsokan ingin membeli buku-buku bekas ibu pemilik rumah. Si ibu bilang mau diberikan ke Mang Ayi, namun tukang rongsokan itu berkata, “Mang Ayi bohong, buku-buku itu bukan untuk taman bacaan, tapi buat dijual”. Syukurlah si ibu lebih mempercayai saya.

Ayi Rohaman dan Perpustakaan

Ayi Rohaman dan Perpustakaan. Di scan dari majalah Tarbawi. Foto dok Tarbawi/wasilah

Setelah buku yang terkumpul makin banyak, saya meminjam kios kakak saya di depan rumah. Buku-buku saya susun di dalam kios, yang ukurannya kecil sekali, hanya memuat lima orang. Kalau datang sepuluh anak, yang lima anak harus mengantri di luar. Taman bacaan saya itu kemudian saya beri nama Perpustakaan Sariwangi

Pernah anak bungsu saya menangis meminta uang jajan, tapi tidak saya berikan. Tiba-tiba datang ke perpustakaan seorang anak yang menanyakan buku, untuk PR, dan besoknya harus dikumpulkan. Ternyata di perpustakaan tidak ada buku itu. Hari itu juga saya cari buku itu ke pasar. Istri sempat protes karena anak sendiri tidak diberikan uang jajan [tertawa]. Saya kasihan, anak itu masuk perpustakaan sambil kebingungan. Setelah buku itu ada, anakitu wajahnya cerah. Kalau melihat anak yang wajahnya cerah karena menemukan buku yang dicari, saya senang”.

Perjuangan Mang Ayi belum selesai….

berlanjut ke part 2 di : http://lifenotes197.wordpress.com/2011/02/20/mang-ayi-gorden-keliling-part2/

Read Full Post »

Mang Ayi, Gorden Keliling dan Perpustakaan Sariwangi (part 2)

Sekitar lima bulan berjalan, alhamdulillah istri akhirnya mau membantu mengelola perpustakaan. Karena ia melihat saya orangnya susah diatur [tertawa]. Mungkin istri pusing juga karena saya jadi tidak disiplin. Kalau berjualan gorden tidak lama saya sudah pulang, karena yang dipikirkan bagaimana kalau ada anak meminjam di perpustakaan tidak ada yang melayani. Kalau dibiarkan terus, saya malah tidak akan dapat uang, karena cuma berkeliling sebentar sudah kembali ke perpustakaan [tertawa]. Maka istri menggantikan menjaga perpustakaan bersama anak sulung, kalau saya sedang berkeliling.

Tahun 2005, di luar dugaan, Perpustakaan Sariwangi dinobatkan sebagai pengelola perpustakaan terbaik se-Bandung. Saya diundang untuk menerima hadiah di kabupaten. Saya tidak punya sepatu untuk menghadap bupati. Karena saya ke mana-mana selalu pakai sandal. Sampai malam saya pinjam ke saudara dan tetangga, tapi ukurannya tidak ada yang pas. Sedangkan esoknya harus berangkat pagi ke kabupaten. Hingga istri saya bilang, pakai saja uang simpanan untuk belanja harian. Saya tidak membeli sepatu mahal, karena perlu sisa untuk disimpan dan untuk ongkos ke kabupaten. Sepulang dari kabupaten, ternyata ongkos pulang tidak cukup. Saya hanya bisa naik angkot sampai Banjaran. Untuk naik kendaraan lain ke desa Arjasari, uang sudah habis. Saya berdiri saja di jalan sambil membawa kardus tertutup, hadiah dari bupati. Tiba-tiba ada tetangga lewat. Dia menegur, Ayi kamu keren banget pakai batik dan sepatu (tertawa). Akhirnya saya pulang berboncengan dengan tetangga itu. Sampai di rumah, saya dan istri membuka kardus itu. Setelah terbuka, ternyata didalamnya buku-buku bekas.  

Ini saya jadikan motivasi. Waktu itu saya berjanji pada diri sendiri. Ya Allah, berikanlah saya rejeki yang banyak. Meski tidak ada biaya, saya ingin perpustakaan tetap berdiri. Tiap malam saya berpikir, bagaimana caranya perpustakaan bisa berdiri tegak, tapi keluarga saya juga bisa terurus. Itulah juga doa saya. Saya yakin andaikata berbuat kebaikan, maka Allah akan memberikan kebaikan dan jalan. Maka saya tetap mengelola perpustakaan. Walau kerabat ada yang mencemooh “buat apa harus mikirin orang lain, menyuruh orang membaca, kayak orang kaya aja. Kalau orang kaya sih pantas, kamu kan hidupnya saja kayak begitu”.

Saat anak-anak datang membaca, ada kepuasan tersendiri. Anak-anak yang datang untuk mengerjakan tugas dari guru, ketika melihat buku yang diperlukan ada di perpustakaan, mereka senang sekali. Atau saat melihat anak yang mulanya belum bisa baca, tiba-tiba dia masuk perpustakaan. Lalu belajar membaca, dan akhirnya bisa membaca. Gurunya juga senang karena anak itu jadi bagus bacanya. Bagi saya hal-hal seperti ini merupakan kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan uang.

Saya sempat bingun dan sedih, sewaktu di tahun 2005, kakak saya mengatakan kios tempat perpustakaan mau dipakai. Saya harus pindah. Tapi mau pindah kemana, saya tidak punya dana sama sekali. Saat itulah tiba-tiba datang wartawan sebuah surat kabar yang ingin wawancara. Setelah wawancara dimuat, di luar dugaan datang wakil suatu yayasan ke perpustakaan. Mereka menanyakan harapan saya. Saya katakan bahwa andaikata saya punya uang, saya ingin punya perpustakaan yang layak. Di akhir obrolan, ternyata wakil dari yayasan itu mengatakan bahwa mereka ingin memberikan dana untuk mendirikan perpustakaan yang layak itu (terdiam). Saya benar-benar tidak menduga. Saya sangat bersyukur. Allah Maha Besar.

Alhamdulillah. Dulu, ketika ‘kampanye’ soal pentingnya membaca, kadang menerima cibiran “tukang gorden aja belagu, pake bicara minat baca segala”. Tapi setelah perpustakaan berkembang, terjadi sebaliknya. Banyak yang mengatakan ingin belajar. Kami juga mempunyai kelompok Petani Membaca. Karena mereka mungkin bukan malas membaca, tetapi terkendala masalah akses dan dana.

[Gedung perpustakaan baru milik Pak Ayi dibangun Januari 2007, dan mulai digunakan Mei 2007. Peminjaman buku dan keanggotaan tetap gratis. Di gedung itu juga diadakan pengajian rutin, kursus komputer-bahasa Inggris dan latihan angklung. Pak Ayi juga pernah diundang berbagai pihak misalnya, mahasiswa UNPAD, perpustakaan Sukabumi dan perpustakaan Solo, untuk menceritakan pengalaman mendirikan perpustakaan. Warga desa yang datang ke perpustakaan Pak Ayi tiap hari mencapai 230 orang, mulai anak-anak SD hingga masyarakat umum]

Read Full Post »

Thanks to flickr.com

Thanks to flickr.com

Suatu hari  di musim semi…

Whoaa…*sugoi…!! * totemo jouzu desu nee..!”, Sakura menatap kagum foto-foto hasil jepretan Aoi yang di-upload di salah satu web dan banyak mendapat pujian.  Sahabat Sakura itu memang ahli sekali fotografi yang bertema alam dan sains, bukan fotografi nyeleneh atau berbau pornografi yang bertopengkan “art”.

Aoi menjawab dengan datar “*ie, shumi dake da yo..”. Sakura menoleh, “Koq responnya dingin begitu !? Bukannya seneng dapet banyak pujian?, tanya Sakura heran. Aoi tersenyum lemah “Tadinya…, tapi begitu nge-baca tulisan ini…pfff.. kerasa ada yang nonjok”, Aoi menunjukkan artikel yang tengah dibacanya. Sakura kemudian membaca artikel yang rupanya sedari tadi direnungi sahabatnya itu. Begini kira-kira tulisan artikel tersebut:

  

Saudaraku,

Allah SWT mengkaruniakan kita akal dan kemampuan berfikir, sesuatu yang sangat mahal didalam hidup ini. Kemampuan akal lah yang menjadi faktor utama dalam menilai apakah seseorang sudah wajib melaksanakan perintah Allah atau belum. Tanpa akal, kita tidak bisa mengenal rambu-rambu didalam kehidupan ini.

Tapi saudaraku, terkadang kita lupa…bahwa

Akal juga bisa membuat kita terseret bahaya.  Seperti yang dikhawatirkan oleh Umar bin Abdul Aziz dalam kata-katanya kepada Roja’ bin Haywa, “Wahai Roja’, aku mempunyai akal tapi aku takut Allah mengazabku karena akalku…” (Sirah wa manaqib Umar, Ibnul Jauzi, 252)

Umar bin Abdul Aziz yang ahli ibadah itu takut sekali dengan kemampuan akalnya yang besar. Khawatir bila kemampuan berfikirnya akan mendorongnya hingga mengeluarkan alasan merubah larangan menjadi sesuatu yang boleh dan wajar dilakukan. Was-was bila ketajaman akalnya perlahan-lahan mengajaknya lebih bersandar pada kemampuan diri sendiri,  ketimbang menyandarkan diri kepada Kuasa Allah SWT.

Saudaraku,

Begitulah. Akal dan pikiran kita bisa juga menjadi pintu kemaksiatan yang menggeser amal ketaatan. Akal bisa menjadi sarana seseorang ujub dan sombong, lalu membuang sikap tawadhu dan rendah hati. Akal dan pikiran bisa membuat banyak alasan agar seseorang boleh melakukan kesalahan yang sebenarnya dilarang. Tanpa ketakwaan dan sikap wara’, kemampuan akal bisa memunculkan sikap melupakan dosa, atau menyepelekan dosa, membesar-besarkan suatu ketaatan, piawai menyembunyikan keburukan dan aib diri, merasa lebih baik dari orang lain…

Dahulu, para salafusshalih telah menemukan cara yang efektif untuk mengendalikan akal dan pikiran mereka. Dengan melakukan tafakur dan tadabbur atau merenungi ciptaan Allah. Dengan cara itulah mereka tetap merasa kerdil dihadapan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT.

  

—- Angin musim semi berhembus dengan lembut, meniup dedaunan di taman. Sakura terdiam dan tertegun, tenggelam didalam perenungannya sendiri. Bergelut di sebuah profesi dan menjadi seorang profesional, hidup didalam high-tech lifestyle, tenggelam dalam rasa takjub akan temuan, object oriented, sering kali memudarkan rasa kehambaan, ketergantungan terhadap Allah SWT. Meski keagungan dan keajaiban penciptaan Allah sedemikian dekatnya di pelupuk mata, namun hanya sanggup memunculkan kata-kata “amazing”,“cool” yang ditujukan untuk si penemu dan/atau hasil temuannya, -tanpa bisa sampai kepada “SubhanaAllah”, pengagungan kepada Sang Pencipta keajaiban tersebut sendiri. Sakura merasa sesuatu menohok hatinya, ya… kalimat-kalimat didalam artikel tersebut tak ubahnya seperti nasehat keras bagi dirinya sendiri.

 

“Aku tidak bisa menafikan bahwa hobi fotografi-ku ini sangat rentan menjadi hal yang tidak berguna atau bahkan menjadi dosa”, suara Aoi lirih memecah keheningan. “*Demo, Sakura-san…, aku berharap foto-foto alam dan sains ini bisa bermanfaat untuk ilmu pengetahuan, bisa lebih mengingatkan kepada kebesaran Allah SWT, terutamanya untuk diriku, alhamdulillah jika bisa mengingatkan orang lain juga.

 

“Astaghfirullah al’adhiim..”, Sakura menggelengkan kepalanya, teringat bagaimana seringnya ia terkagum-kagum ketika membaca tulisan mengenai kehebatan cara kerja otak, terpesona melihat makhluk hasil rekayasa genetika, tercengang menyaksikan siaran dari pesawat ulang alik Discovery. Dan yang terparah adalah…betapa seringnya ia merasa puas diri akan pekerjaannya..dan semua itu antusiasme ilmu pengetahuan yang berujung pada kekaguman terhadap objek belaka. Tidak lebih. Tidak ada hati yang semakin menunduk kepada Allah disana. Apalagi kesadaran bahwa ia semakin kerdil dihadapan Allah Azza wa Jalla. Terasa ada yang hampa…jauh di lubuk jiwanya.

Harusnya semua yang ia saksikan tersebut bisa membuatnya berfikir, “otak yang memiliki milyaran sel syaraf yang terhubung dan bersinergis secara sempurna mengatur seluruh pergerakan tubuh makhluk hidup…adakah yang mampu menciptakannya selain Allah?”. Semestinya ia sampai kepada pemahaman, “manusia memang bisa men’ciptakan’ tanaman super, namun ‘bahan mentah’nya – mulai  dari gen, sel, jaringan hingga sistem perkembangan tanaman…adakah manusia yang menyediakannya? Bukankah manusia tidak bisa berbuat apa-apa jika Allah tidak menyediakan semua ‘perangkat’ canggih itu?”.

- – - - 

Sakura terdiam…lama…menatap langit biru yang tenang, menghela nafas, pelan ia berkata “then higher skill should mean higher taqwa…nee Aoi-san”, ucap Sakura seraya menoleh ke arah Aoi. Sahabatnya itu mendekat, memeluk pundaknya, seakan bisa merasakan kegalauan hatinya saat itu. Karena Aoi pun memikirkan hal yang sama…

 “Ya Allah, betapa seringnya kami melupakan-Mu. Merasa berkuasa atas sesuatu, mengandalkan kemampuan diri. Padahal tak ada sesuatu pun di dunia ini selain kepunyaan-Mu, ciptaan-Mu dan berada didalam genggaman-Mu”

Lalu, Aoi pun berbisik, “Semoga Allah meneguhkan kita di jalan ini, jalan yang penuh perjuangan, berlelah-lelah karena mencari ilmu pengetahuan, penat karena bekerja dalam rangka beribadah kepada-Nya. Semuanya…semata-mata untuk dan karena Allah. Memang berat. Karena kesombongan, rasa bangga dan keangkuhan yang seringkali tidak terdeteksi bisa menghancurkan amal kita, menjauhkan kita dari Allah. Kapan pun…”

 

Allahumma rahmatika arju falaan takilni illa nafsi tharfata `aini wa ashlihli sya’ni kullahu laa ilaha illa antaa. (Ya Allah, berilah kami rahmat-Mu, janganlah engkau biarkan kami dikuasai nafsu kami sekejap mata pun. Perbaikilah keadaan kami seluruhnya. Sesungguhnya Tiada Tuhan selain Engkau)

 

Based on  : “Mencari Mutiara di Dasar Hati : Catatan Perenungan Ruhani seri 2”, karya Muhammad Nursani. Penerbit Tarbawi Press. 2004

 

* sugoi = kerenn..!

* totemo jouzu desu nee = bener-bener ahli ya

* ie = tidak, bukan begitu.

* shumi dake da yo = sekedar hobi saja

* demo = tapi, namun

* dakara = oleh karena itu, jadi.

* nee Aoi-san = ya Aoi-san

Read Full Post »

TRUE STORY :

Kisah berikut ini mengajarkan saya, bahwa apapun kita, seharusnya punya life mission statement -dalam rangka beribadah kepada Allah – tentunya. Mungkin istilah ini biasa kita dengar dari pebisnis, motivator, dan semacamnya. Tapi kalau istilah ini kita dengar dari seorang tukang becak?

Mungkin sahabat juga bakal terkejut dan terkagum-kagum seperti saya. Ya. Ternyata, such story does exist.

hanya ilustrasi

Seorang tukang becak di sebuahkota di Jawa Timur, inilah life mission statement -nya:

1) Jangan Pernah Menyakiti

2) Hati-hati memberi makan seorang istri.

Dua kalimat yang terdengar sederhana, namun jangan anggap ini perkara mudah.

Statement pertama, konsekuensinya: Jangan sampai ada yang menawar ongkos becak, karena menawar berarti menunjukkan ketidak relaan dan penumpang mungkin saja ter’sakiti’ perasaannya. Makanya beliau tidak pernah pasang tarif nge-becak. Misalnya, ada penumpang -tanpa tanya ongkos- langsung ngomong, “Pak, terminal..5000 ya..!”, si bapak pasti nge-jawab;”OK”, ntar kalau ada penumpang lain lagi, “Pak, terminal…3000 ya..!”, jawabnya pasti “OK” juga. Bahkan kalau ada penumpang yg minta, “Pak, terminal…1000 ya!”, si bapak pun mengangguk setuju.

Statement kedua, berhati-hati memberi makan istri, artinya sang istri hanya  akan makan dari hasil keringat dan  becaknya yang tua. Ini menjaga makanan haram masuk ke mulut keluarganya. Rumahnya pun sangat sederhana.

Namun, ada hal yang jauh lebih mengagumkan. Beliau teryata seorang hafidz Qur’an plus dengan 7 qiraat -nya!

Kedua putranya juga hafidz Qur’an, 1 jadi dosen PTN terkemuka di Jakarta, 1 orang lagi jadi pejabat strategis. Jadi, kalau beliau mau, beliau bisa saja stop dari nge-becak dan menikmati kesuksesan anak-anaknya.

Tapi uniknya, saat pulang kampung, anak-anaknya yang sukses ini tak berani berpenampilan’ wah’. Mobil ditinggal beberapa blok dari rumah. Semua aksesoris diri: arloji, handphone dicopoti. Ini adab, tatakrama. Sudah berulangkali sang anak mengajak orangtuanya ikut ke Jakarta. Namun si anak hanya bisa menangis, mendengar sang ayah menceritakan betapa bahagianya ia dengan kehidupannya dan mempersilahkan putra-putranya menikm ati kebahagiaan mereka sendiri.

Dikutip dari buku Barakallu Laka: Bahagianya Merayakan Cinta. Karya Salim A. Fillah (dengan beberapa edit)

Ternyata, seperti yang dikatakan penulis kisah ini…”Ada banyak kekasih Allah yang tidak kita kenal”

Saya jadi ingat salah satu buku favorit: Lelaki Hitam, Pendek dan Lebih Jelek dari Unta-nya karangan Ahmad Zairofi AM.

Ya…memang sangat-sangat banyak wali Allah, hamba Allah yang mengagumkan, justru jauh dari kata ‘populer’, ‘nge-top’, dan sederet perlengkapan duniawi lainnya…

Read Full Post »

Ada kisah sedekah yang sangat berkesan bagi saya, karena menurut saya sosok didalam kisah ini terbilang langka untuk kita temukan sekarang. Berikut adalah kisahnya yang diceritakan oleh Hamzah Ali Parayeel, putra pemilik restoran terkenal “Malabar”, saya kutip dari majalah TARBAWI edisi 11 Th.8 Syawal 1428 H, beberapa bagian saya ringkas karena cukup panjang.

“Ayah saya, almarhum Haji Ali Parayeel membuka restoran Malabar di Harmoni, Jakarta, pada tahun 1943. Restoran itu menyajikan berbagai menu, terutama menu ber’nafaskan’ India. Meski termasuk restoran ternama, tapi Malabar terjangkau oleh kelas bawah. Walau orang kurang berpunya, bisa makan disana karena bisa menyesuaikan dana dengan harga menu. Bangunan restoran juga tidak mewah, ruko biasa, hanya saja warna catnya bernuansa India.

Ayah punya kebiasaan bersedekah. Beliau yakin sekali akan kekuatan sedekah. Sejak restoran dibuka (1943) hingga ditutup pada tahun 1978, setiap Ramadhan, segala menu disediakan gratis untuk orang berbuka puasa.  Selama sebulan itu, kasir tidak berfungsi. Jumlah orang yang datang untuk berbuka puasa gratis tidak dibatasi. Para pedagang di sekitar lokasi restoran, mereka yang kemaghriban di jalan, orang yang tidak mampu dan siapapun berdatangan ke restoran. Masakan tersedia terus sejak maghrib, non stop, dan orang yang berbuka puasa tidak pernah kehabisan makanan. Meja-meja restoran digabungkan hingga membentuk meja amat panjang. Tidak dipisahkan si miskin dan si kaya, semua duduk bersama. Ayah selalu duduk di salah satu kursi di meja tersebut, berbuka puasa bersama “tamu-tamu” nya. Setelah menyantap hidangan, biasanya sebagian orang tak berpunya tetap tinggal. Kemudian Ayah mengeluarkan zakat untuk mereka.

Menjelang Ramadhan, Ayah sudah menghitung keuangannya. Beliau tidak menggunakan bank karena menolak riba, jadi semua uangnya dimasukkan koper. Uang untuk zakat dipisah pada tempat khusus dan tidak boleh dipakai untuk urusan yang lain. Dan mulai tanggal satu Ramadhan orang sudah berdatangan untuk mengambil zakat.

Di hari raya Idul Fitri, Ayah menyediakan berbagai hidangan di restoran secara gratis pula. Setelah shalat Ied, dari mesjid Ayah langsung ke restoran, melayani orang-orang yang berdatangan. Setiap pulang shalat Jum’at, Ayah tidak pernah sendiri. Selalu membawa orang-orang untuk makan di restoran tanpa biaya. Di restoran kerap datang tamu yang ingin makan namun tak punya uang. Mereka disediakan tempat didalam, di balai yang biasa dijadikan tempat berkumpul keluarga.

Tapi beliau pernah marah dan membentak oknum petinggi militer yang datang ke restoran. Orang itu ingin makan bersama teman-temannya dan ingin membawa minuman keras. Ayah mengusirnya.

Pada 23 Ramadhan 1974, ayah berpulang, setelah sakit selama sebulan. Di saat sakit, Ayah selalu bertanya rumah siapa yang ia tempati saat itu. Kami menjawab bahwa itu rumah Ayah (yang biasanya). Beliau mengatakan tidak mungkin itu rumahnya, karena rumah itu begitu bagusnya, indah dengan taman anggur di sekelilingnya. Bahkan di kamarnya pun Ayah sering mengatakan ia melihat taman anggur, dan matanya bersinar karena kagum.

Beberapa saat sebelum wafatnya, Ayah bangun dari tidur dan meminta minum. Setelah minum, beliau berujar, “Alhamdulillah hari ini saya minum juga”. Setelah itu ia ingin kembali merebahkan diri, namun sebelum kepalanya menyentuh bantal, saat itulah saya melihat bibir Ayah melafalkan laa ilaaha illallah. Setelah mengucapkan syahadat, beliau pun berpulang.”

Read Full Post »

Sakura wrote:

MasyaAllah capeknya…!, baru keluar kantor…Hmmpff! jam 11.30 malem masih di densha ! semakin capek ketika ingat masih harus menempuh 1 jam lagi untuk sampai di kost. Menghela nafas, aku bersandar di kursi dan melayangkan pandangan ke luar jendela kereta yang tengah berhenti. Lalu pandanganku tertuju kepada  Ojii-san yang sedang berjualan bento, rasa lelah tergambar jelas di rautnya yang tua. Hmm…mungkin ia sudah berjualan dari pagi…susahnya cari rezeki ya. Astaghfirullah…tiba-tiba aku tersadar…mungkin yang kujalani ini jauh lebih ringan dari apa yang kakek itu lakukan. Aku jadi teringat sebuah kisah yang pernah kudengar dari sahabat. Kisah ini dikutip dari artikel majalah islam TARBAWI edisi 192 Desember 2008, merupakan ‘catatan perjalanan’ dari Nita Rahayu.

“ Saat itu, tanggal 29 Juli 2008. Saya ditugaskan untuk mengawasi dan mengambil data yang berhubungan dengan penelitian kualitas udara ambien di daerah Jalan Suci, Bandung. Pekerjaan ini memang menuntut saya untuk tetap terjaga selama 24 jam. Udara dingin dan angin malam yang berhembus kencang menusuk tulang. Badan saya terbungkus jaket, sarung tangan, kaos kaki dan kerudung tebal. Tapi tetap saja hawa dingin terasa hingga membuat tubuh menggigil dan gigi gemeletuk. Iseng saya melihat barometer yang dilengkapi pengukur suhu, dan terpampang angka 170C!. Terbayang dibenak, bahwa seharusnya saya berada di rumah, sedang terlelap, berselimut tebal, dan bukan berada di sini. Rasa kesal dan ketidak relaan pun datang mendominasi.

hanya ilustrasi

Saat itulah, seorang bapak tua – berumur 50-60 tahun dengan memakai wear pack kuning dan topi serta bersarung tangan namun tanpa jaket! – terlihat mulai menyapu jalan. Saya melirik jam di pergelangan tangan. SubhanaAllah, jam 2.30 dinihari! Terlintas di benak, jika sepagi ini beliau sudah menyapu jalan, lalu jam berapa beliau bangun untuk mempersiapkan diri?

Tanpa rasa jijik, bapak tua penyapu jalan itu mulai memunguti sampah-sampah sisa aktivitas orang, untuk kemudian menyimpannya di gerobak sampah yang ia bawa. Tak tahan hanya melihat, lalu saya dekati beliau. Saya ambil sampah yang berserakan, lalu membantunya memasukkan kedalam gerobak. Awalnya beliau menolak, tapi karena saya bersikeras, akhirnya beliau menyerah.

Di sela-sela kami membersihkan sampah, saya menanyakan jam aktivitasnya. Jawabannya sama sekali tidak terduga. “Bapak tidur ba’da Isya, sekitar jam 9 malam. Kemudian bangun kembali jam 1 dinihari, dan bapak sempatkan Qiyamullail, setelah itu bapak baru bersiap untuk menyapu jalan. Sebelumnya, kalau ada makanan di rumah, bapak makan dulu. Kalau gak ada mah sarapan air teh manis hangat saja. Selesai nyapu, dan ke TPS (Tempat Pembuangan Sementara), jam 04.00 pagi. Alhamdulillah, masih bisa shalat subuh berjama’ah di mesjid. Selesai shalat bapak bantu ibu bikin gorengan dan pagi sampe siang hari-nya bareng ibu pergi berjualan di sekolah. Dan Alhamdulillah juga, bapak sehat, gak pernah sakit walaupun kerjaan bapak ngangkat sampah. Mungkin gara-gara sering olahraga ‘nyapu jalan’ pagi-pagi dan setiap hari, makanya gak pernah sakit”.

Pun ketika ditanya mengenai pendapatannya, beliau hanya berucap, “Alhamdulillah…rezekinya ada aja. Kalau perkara cukup atau nggak, dengan uang honor 250 ribu per bulan kalau melihat kondisi sekarang pasti nggak cukup. Apalagi anak bapak yang paling kecil masih ada yang sekolah di MTs. Tapi semuanya sudah dijatah, bapak mah tinggal berusaha. Yang penting barakah”

Tanpa disadari, air mata meluruh di sudut mata. Dada ini sesak oleh rasa malu. Malu karena masih saja mengeluh dan begitu egois, memikirkan kenyamanan diri. Padahal pekerjaan saat ini terhitung lebih mudah dibanding apa yang bapak tua itu lakukan”.

blogger note:

Ojii-san : orang yang lebih tua, sebutan bagi kakek orang lain

densha: kereta api listrik

bento: makanan didalam tempat siap saji yang bisa dibawa kemana-mana seperti ‘bekal’

Read Full Post »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.